Gamis Sultan

Assalamu’alaikum Readers

Long time no see, ya … Pa kabar kalian? Semoga sehat. Alhamdulillah masih menghirup oksigen hingga sekarang. Sebuah nikmat yang pantas disyukuri. Ada waktu untuk berbenah, dan menjadi individu yang lebih baik lagi. Aamiin.

Yang kemarin berjibaku dengan serangan C19 kedua dan sekarang udah sehat kembali, maka bersyukurlah atas kesembuhan ini. Sebab Allah telah mengangkat sakitmu dan memberimu kesempatan untuk melanjutkan kebaikan yang selama ini telah kamu realkan.

Readers, kini cantik tak hanya milik wanita tak berhijab. Wanita berhijabpun tak kalah cantiknya dalam balutan busana muslim tertutup sekalipun. Serapat apapun wanita, pesonanya tetap terlihat.

Tertutupnya tubuh wanita dengan pakaian taqwa yang syari, tak hanya menambah cantik penampilan juga menambah plus jati dirinya. Pembeda muslim dan non muslim, bahkan taqwa dan belum taqwa. Kenapa demikian, karena itu wujud ketundukan dan rasa syukur kita pada sang pencipta. TanpaNya mustahil ada kehidupan.

Cantik tak perlu dibuktikan, tak perlu diumbar, tak butuh piala, tak butuh diumumkan. Sebab cantik adalah pemberian. Definisi wanita cantikpun berbeda. Dan akan menghabiskan waktu yang panjang membahas kecantikan wanita. Masih banyak hal penting lainnya yang harus dipikirkan dan diberi solusinya.

Udah deh. Kita semua cantik selama kita adalah wanita.

Udah punya pakaian syari belum? Jika belum itu ada launching gamis sultan 10. Kamu nggak hanya terlihat cantik, namun juga terlihat mewah, wow

Bukan Jarak yang Dekat

Berapa usia langit? Berapa usia bumi? Dan berapa usia angin? Tak ada yang tahu. Usia diri sendiripun hanya tahu saat merayakan sesuai dengan akta lahirnya. Tapi sesungguhnya tak pernah tahu usia sejatinya diri sendiri. Sampai kapan tinggal di atas bumi. Tahu-tahu saja mendapat kabar kematian. Usai sudah usia kita di bumi. Di alam kubur, di padang makhsyar, di surga/neraka? Tak ada yang tahu.

Kabar duka saya terima lagi dari ustadz kampung saya. Ustadz Budi Santoso. Sebenarnya beliau orang Surabaya, namun tiap Senin ba’da maghrib beliau mengisi kegiatan ta’lim di masjid kampung kami di Menganti, Gresik. Bukan jarak yang dekat. Tapi semangatnya itu mengalahkan yang muda. Sejak belia beliau mengisi kegiatan ta’lim hingga berkeluarga, bahkan hingga salah satu putranya menikah. Tak pernah beliau absen mengisi ta’lim kecuali ada udzur syar’i.

Seperti Senin pekan lalu, 28 Juni, beliau izin tidak hadir ada rapat cabang. Entah ini beneran atau untuk mengelabuhi kami. Ternyata Senin, 5 Juli sore lewat kabar wag beliau meninggal dunia.

Subhanallah. Ampuni dosa-dosa beliau, beliau orang baik. Beliau selalu puasa sunnah senin-kamis, gaya bicaranya kalem, santai, tidak tampak nafsu duniawi dalam dirinya.

Pertanyaan saya tadi ke suami, “Siapa yang akan mengganti posisi beliau, mas?” Tak ada jawaban. Mungkin ada banyak pengganti tapi yang istiqomah seperti beliau itu yang sulit ditemukan. Bukan jarak yang dekat, tapi jauh.

Hikmah

Atas semua kejadian akhir-akhir ini saya hanya menanti hikmah apa yang akan saya dapatkan.

Adik positif covid otg, om positif. Orang-orang terdekat saya mulai merasakan pandemi ini. Teman satu alumni asn angk 2014 tadi pagi meninggal diagnosa covid. Beliau bumil, setelah melahirkan si bayi Alhamdulillah sehat, sudah di rumah dan aman. Sementara beliau stay di rumkit positif covid sampai yang sesak nafas. Akhirnya pagi tadi dipanggil yang Maha Kuasa dari berita yang saya dapat tadi siang melalui wag.

Tentang hikmah ini berdasarkan Al Quran maupun sunnah menyebutkannya di beberapa surat dan hadist. Diantaranya ada pada surat Shaad : 20, “Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya (Nabi Daud) hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” Allah memberikan hikmah kepada nabi Daud ‘alaihissalam.

Rasulullah juga pernah bersabda dalam salah satu hadistnya tentang hikmah,”Ambillah hikmah, tak akan merugikanmu, dari manapun ia lahir.” (Al-Sakhawi dalam “al-Maqashid al-Hasanah” :451).

Hikmah ditafsirkan oleh sebagian ulama sebagai ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Seperti yang dikatakan oleh Syaikh As-Sa’di bahwa hikmah adalah ilmu yang benar dan pengetahuan akan berbagai hal dalam Islam. Jadi hikmah merupakan sinergi antara ilmu dan amal shalih, menurut tafsir As-Sa’di.

Dan seseorang belum disebut ahli hikmah jika belum menggabungkan ilmu dan amal (Ibnu Al-Jauzi, Zad Al-Massir fi ilmu tafsir, I/242).

Nah, makin dalam ya ternyata hikmah itu. Sebagai manusia biasa (saya maksudnya) hanya bisa mengambil hikmah dari tiap kejadian berdasarkan pengetahuan yang saya punya. Itupun dangkal. Tapi cukuplah saya saja yang menuliskan hikmah apa dibalik berita-berita menyedihkan ini, pandemi yang belum usai, sekolah yang belum diizinkan adanya kegiatan tatap muka. Menyedihkan? Pasti. Terutama di bidang pendidikan ini. Kegiatan transfer knowledge tak lagi langsung, melainkan melalui daring alias belajar jarak jauh.

Tetap Semangat

Tetap produktif meski positif. Beliau kerabat saya. Tadi sore info masuk di wag keluarga. Ngabarin beliau reaktif setelah swab antigen.

Saya tanya kenapa kok pakai swab? Apa ke rumah sakit? Ternyata nggak. Beliau itu sedang flu. Tinggal berdua dengan istrinya. Nah di belakang rumahnya tinggal keluarga putra pertama beliau dengan dua anak. Dua anak itu adalah cucunya yang masih balita.

Singkat cerita swab mandiri biaya 150.000. Karena beliau flu dan si anak kuatir interaksi ayah dengan anaknya (kakek dengan cucu), maka baiknya perlu dicek. Dan ternyata reaktif.

Tapi bersyukurnya kerabat tersebut kasih info ke wag dengan gaya lucu. Jadi nggak berasa sedih. Auranya happy. So kita yang baca nanggapinya juga nggak terlalu risau. Malah kasih semangat. Lihat aja gambar di atas. Beliau tetap kerja, makan banyak, plus usaha mengurung diri di atas uap air panas hehehe.

Nah, sebelumnya saya juga dapat kabar adik saya positif tapi OTG (orang tanpa gejala). Terus terang agak kepikiran. Karena dia sendirian di rumah dengan dua anak usia 12 dan 10 tahun. Sedangkan si ibu (istri adik saya) dirawat di rumah sakit karena typus dan lambung. Adik saya ada jantung (udah pasang 2 ring), diabetes, stroke dan darah tinggi. Keduanya sama-sama menghawatirkan. Ya Allah semoga keempatnya, adikku, istrinya dan dua anaknya sehat setelah badai ini. Demikian pula ibu saya, dan keluarga kecil saya. Aamiin

Meski kita tidak bisa menghindar dari taqdir, tapi memohon kepada pemilik ruh agar mengembalikan kesehatan kami.

Hari Pertama PPKM

Assalamu’alaikum Readers …

Malmingan ngapain aja Ders …

Saya di rumah saja berdua. Seperti biasa dan juga masih masa penyembuhan. Ngilu-ngilu di kepala masih terasa meski nggak sesakit kemarin.

Ya, hari ini mulai diterapkan PPKM hingga 20 Juli. Kayaknya nggak seberapa berimbas kalau di daerah saya. Ini tadi toko masih didatangi pembeli. Saya tadi juga masuk piket pertama kali sejak sakit. Warung kopi masih buka. Pembeli juga banyak. Ah sudahlah anggap biasa biar nggak stress.

Mikirin pandemi belum ada habisnya. Entah beneran atau konspirasi kita sama-sama tak tahu, meski ada yang tahu.

Yang pasti jaga diri demi keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

PPKM

Hai pa kabar Readers, saya berharap kalian sehat. Sakit udah saya rasakan. Akhirnya saya benar-benar tak berdaya sejak kemarin Kamis. Saat awal membuka mata di shubuh hari, semua berputar.

Ya Allah, akhirnya saya mengalaminya! Kemudian saya terpejam lagi. Lalu membuka lagi setelah shock beberapa waktu. Sambil mencoba untuk tenang. Alhamdulillah tak ada pandangan mutar-mutar.

Saatnya bangkit dari posisi rebahan. Omg, terulang. Ga kuaat … saya limbung. Jatuh kembali di kasur. Karena semua yang ada di depan saya kembali berputar.

Setelah dirasa aman, saya coba membuka mata, kemudian duduk, berdiri dan tak ada kejadian berputar, saya berjalan menuju kamar mandi.

Buang hajat, berwudhu, kemudian shalat shubuh dengan sunnahnya sekalian. Alhamdulillah aman. Setelahnya saya bangunkan suami, lalu kembali rebahan. Nggak kuat lama-lama berdiri dan ada mual di perut.

Benar saja, sekitar setengah jam berikutnya, mulai ada desakan dari dalam tubuh. Mual yang tak dapat saya bendung. Sebagian kecil tercecer di lantai kamar, sebagian masih tertahan di mulut. Dengan bahasa tubuh dan erangan dengan bibir tertutup saya memberi isyarat suami untuk bantu menuntun ke kamar mandi. Dan, byooor, muntah air. Cukup banyak. Suami memijit kepala dan punggung saya. Kemudian saya lemas dan ada rasa lega di perut yang tak lagi mual. Tapi, pandangan berputar-putar masih menyelimuti diri. Akhirnya rebahan kembali.

Suami bergegas membuatkan air madu hangat. Saya diminta untuk segera meminumnya. Kemudian, dia bergegas membeli dua bungkus makanan untuk sarapan kami berdua. Yah, kali ini dia yang banyak bergerak untuk saya, setelah sebelumnya saya yang banyak bergerak untuknya.

Kata ibu dan teman saya itu namanya vertigo. Pusing yang sampai pandangan berputar-putar.

Kaitannya dengan PPKM apa? Pembelakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (Kompas.com) atau PPKM berlaku besok atau dua hari setelah saya kena vertigo.

Pentingnya apa ma sakit kamu? Nggak ada. Sakit saya nggak penting buat kalian, tapi penting buat saya. Ternyata pusing saya sudah sampai stadium itu. Ah, sudah selesai. Ini mulai ada sinyal-sinyal harus segera mengakhiri kegiatan online.

Lanjut besok kalau masih ada lanjutannya hehehe. Jangan lupa ini blog saya, bukan blog kamu. Mau saya tulis apa terserah saya kan.

Semoga ada kebaikan di sini.

Wassalamu’alaikum …

Ditemani Rembulan

Udah kebiasaan jelang tidur kayaknya nih. Kalau belum nulis nggak enak. Tadi udah putar otak, memaksimalkan panca indera buat cari ide tulisan malam ini. Nggak ketemu.

Karena belum ngantuk sesekali lihat sinetron yang lagi digandrungi emak sejagat Indonesia ini, Ikatan Cinta. Saya nggak bahas sinetronnya. Tinggal lihat aja sendiri, toh ceritanya ya gitu-gitu saja.

Nah pas jedah nggak sengaja mata ini menangkap sesuatu yang nggak wajar. Oh, ternyata ada bulan di balik kaca jendela ruang tamu. Sebenarnya bukan jendela sebab nggak bisa dibuka tutup, lebih tepatnya ventilasi cahaya. Jadi, cahaya dari luar bisa masuk ke dalam, demikian pula sebaliknya.

Dapat gratisan momen indah. Sayang kalau nggak difoto buat cerita sekalian di blog. Jadi kayak teman nonton tv. Nggak merasa sendiri meski nggak bisa diajak ngobrol.

Tapi bulan ini seolah bercerita kalau dirinya sekarang adalah Dzulqo’dah. Salah satu dari empat bulan haram dalam kalender Hijriyah. Haram disini bermaksud suci, bukan haram yang lima hukum Islam.

Bulan haram, bulan di mana dilarang ada peperangan, perkelahian, bahkan bisa jadi perceraian kalau diaplikasikan dalam skala keluarga.

Bulan kesebelas. Bulan kedua belasnya adalah Dzulhijjah. Semoga bisa bertemu dengan bulan qurban sehingga bisa merayakan lebaran lagi setelah Idul Fitri kemarin.

Buah-Buahan

Assalamu’alaikum Readers,

Senja nih, udah maghrib di sini. Gelap mulai menyapa. Puitis dikit ya.

Setelah berbagi makanan, kali ini saya share buah-buahan.

Kapan hari suami pernah request jambu biji merah. Katanya banyak kandungan vitamin C nya. Saya tahu dia minta buah itu setelah dapat share video tentang jambu biji merah di WAG.

Waktu berlalu, baru kesampaian pagi ini. Setelah berbenah, saya belanja lauk rawon keinginan suami. Terus ingat ma jambu biji merah. Jadilah saya mampir ke toko buah untuk membelinya. Setelah sampai rumah, ternyata suami minta dibelikan jeruk dan roti tawar. Bukan sembarang roti tawar ya. Dia hanya mau yang ada di toko roti X.

Berangkatlah. Ternyata roti habis. Hanya dapat jeruk dan isi bensin.

Kini dua macam buah ada di rumah. Padahal kita hanya berdua. Eh tapi kalau manis biasanya cepet habis. Dan ternyata Alhamdulillah jeruknya manis. Jambu bijinya ya gitu lah rada manis. Dua kali beli dua kali kecewa. Sebab setelah diblend, rasa jus jambu bijinya masam. Biasa kalau ngeblend nggak pakai gula. Tawar aja gitu.

Akhirnya jambu bijinya dimakan mentahan setelah dicuci bersih.

Sebenarnya itu usaha kami melawan sakit yang tengah mendera. Nggak enak badan yang kami alami di tengah pandemi ini membuat kami harus mandiri. Penyembuhan dilakukan sebisa mungkin sendiri. Nggak pakai swab. Emang nggak mau kepikiran ke sana, ya. Tahu kan maksud saya.

Makan yang kami ingin dan sukai. Kenyangkan, istirahat banyak. Minum madu, sari kurma, air hangat, beribadah dan berdoa. Nggak boleh kepikiran pekerjaan. Jauhi stress.

Pekerjaan dikerjakan nanti kalau udah sembuh.

Akhirnya semoga usaha kami ini berbuah sehat. Aamiin

Terpasung

Terpasung di kamar sendiri. Pagi bangun terasa berat di kepala. Oh, ternyata pusing di kepala belum juga lenyap, meski tidak separah Rabu.

Assalamu’alaikum Readers …

Semoga pagi ini kalian sehat, nggak seperti kami berdua di rumah.

Pagi ini sudah diguyur hujan kecil. Semalam ternyata memulai tidur terasa sulit meski badan tidak mampu tegak.

Kira-kira pukul 00 lewat dikit baru mata ini mau menutup.

Pagi sengaja bangun malas-malasan, selain sedang datang bulan juga saya merasa perut, kepala kurang nyaman. Suami semalam sudah request minta sarapan rawon. Ayo kita makan yang kita senangi biar kenyang biar penyakit enyah dari tubuh.

Sekarang 06.31, mau bangkit masih berat meski sudah take a pie, tapi belum minum.

Gresik, 26 Juni 2021. Masih dengan cuaca hujan, panas, selang-seling.

Malam

Assalamu’alaikum Readers …

Berbagi lagi malam ini. Entahlah pengen nulis saja. Pengen berbagi foto dan menulis.

Malam ini pengen tidur lebih cepat. Meski nggak terlalu lelah, tapi mungkin efek belum fit itu yang bikin mata nggak bisa diajak melek lebih lama. Demikian pula dengan body yang belum terlalu kuat.

Suami sudah rebahan terlebih dahulu. Sebab dia yang paling payah diantara kami berdua. Cuaca seperti ini memang menguji fisik kami. Dan biasanya suami yang lebih dulu tumbang, then me.

Saatnya banyakin istirahat. Apalagi pandemi belum usai. Jangan sampai didiagnosa sakit macam-macam.

Sstt, tetap berfikir positif, yakin sembuh dan sehat. Insya Allah selama doyan makan, itu artinya badan masih sayang ma kita.